Monday, November 18, 2013
Friday, October 18, 2013
Thomas Alva Edison, Penemu Lampu Pijar
Siapa yang masih pakai lampu tempel di rumah? Pasti bisa dihitung
dengan jari atau mungkin nggak ada sama sekali. Karena kita udah
memanfaatkan listrik buat menyalakan lampu pijar atau yang lebih dikenal
dengan nama bohlam. Sekarang, mari berkenalan dengan penemu bohlam,
Thomas Alva Edison.
Thomas Alva Edison lahir di Ohio Amerika Serikat dari pasangan Samuel Ogden Edison, Jr dan Nancy Matthews Elliott. Edison lahir pada 11 Februari 1847 dan merupakan bungsu dari tujuh bersaudara. Edison kecil memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sayangnya, ia sering melamun di sekolah dan mendapat nilai buruk dalam pelajaran. Sampai akhirnya Edison kecil dikeluarkan dari sekolah. Padahal ia baru merasakan senangnya menjadi siswa selama tiga bulan, lho.
Keluar dari sekolah bukan berarti Edison kecil nggak belajar. Ia diajari langsung oleh ibunya. Dan cara belajar ini justru memuaskan dahaganya terhadap ilmu pengetahuan. Edison kecil juga senang bereksperimen, lho. Bahkan di usianya yang kesepuluh, ia memiliki laboratorium sederhana di rumahnya. Laboratorium tersebut membutuhkan banyak biaya untuk eksperimen. Maka di usia 12 tahun, Edison pun bekerja sebagai pedagang koran, buah-buahan, dan gula-gula di kereta api. Di tengah usahanya tersebut, Edison sempat membuat laboratorium kecil di salah satu gerbong. Sayangnya, gerbong tersebut terbakar akibat percobaannya.
Meski sempat beberapa kali mengalami kegagalan, Edison pantang menyerah. Terlebih ketika ia berusaha menemukan lampu pijar yang kita pakai sekarang ini. Edison sberkata, “Saya tidak patah semangat, karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju”. Semangatnya ini ternyata membuahkan hasil. Akhirnya dalam percobaan ke 9.956 ia dapat menyempurnakan ciptaannya yang paling termasyhur itu. Selain lampu pijar, Edison memegang 1.093 hak paten atas berbagai barang yang ia ciptakan. Beberapa diantaranya pulpen elektrik, pendeteksi kapal selam, dan fonograf. Kongres Amerika Serikat bahkan memberikannya penghargaan berupa sebuah medali pada tahun 1928. Pada tanggal 18 Oktober 1931, Edison menghembuskan napas terakhirnya. Lizta - Foto: http://www.thomasedison.com
Thomas Alva Edison lahir di Ohio Amerika Serikat dari pasangan Samuel Ogden Edison, Jr dan Nancy Matthews Elliott. Edison lahir pada 11 Februari 1847 dan merupakan bungsu dari tujuh bersaudara. Edison kecil memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sayangnya, ia sering melamun di sekolah dan mendapat nilai buruk dalam pelajaran. Sampai akhirnya Edison kecil dikeluarkan dari sekolah. Padahal ia baru merasakan senangnya menjadi siswa selama tiga bulan, lho.
Keluar dari sekolah bukan berarti Edison kecil nggak belajar. Ia diajari langsung oleh ibunya. Dan cara belajar ini justru memuaskan dahaganya terhadap ilmu pengetahuan. Edison kecil juga senang bereksperimen, lho. Bahkan di usianya yang kesepuluh, ia memiliki laboratorium sederhana di rumahnya. Laboratorium tersebut membutuhkan banyak biaya untuk eksperimen. Maka di usia 12 tahun, Edison pun bekerja sebagai pedagang koran, buah-buahan, dan gula-gula di kereta api. Di tengah usahanya tersebut, Edison sempat membuat laboratorium kecil di salah satu gerbong. Sayangnya, gerbong tersebut terbakar akibat percobaannya.
Meski sempat beberapa kali mengalami kegagalan, Edison pantang menyerah. Terlebih ketika ia berusaha menemukan lampu pijar yang kita pakai sekarang ini. Edison sberkata, “Saya tidak patah semangat, karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju”. Semangatnya ini ternyata membuahkan hasil. Akhirnya dalam percobaan ke 9.956 ia dapat menyempurnakan ciptaannya yang paling termasyhur itu. Selain lampu pijar, Edison memegang 1.093 hak paten atas berbagai barang yang ia ciptakan. Beberapa diantaranya pulpen elektrik, pendeteksi kapal selam, dan fonograf. Kongres Amerika Serikat bahkan memberikannya penghargaan berupa sebuah medali pada tahun 1928. Pada tanggal 18 Oktober 1931, Edison menghembuskan napas terakhirnya. Lizta - Foto: http://www.thomasedison.com
Emmy Award, Piala Wanita Bersayap
Kita mungkin mengenal Emmy Award sebagai penghargaan bagi insan
pertelevisian di Amerika Serikat. Penghargaan yang pertama kali diadakan
tahun 1949 ini sudah berulang kali mengangkat nama besar di bidang
televisi dengan berbagai kategori. Seperti kategori News, Sport,
Documentary dan Entertainment. Tapi, apakah kita sudah tahu sejarah di
balik pembuatan pialanya yang berbentuk wanita bersayap ini.
Nama piala Emmy Award adalah The Emmy Statuette. Piala ini terbuat dari campuran tembaga, nikel, perak dan emas. Tingginya sekitar tinggi 39 cm dan berat sekitar 3 kg. Piala ini didesain oleh insinyur televisi bernama Louis McManus di tahun 1948. McManus menggunakan istrinya sebagai model dari desain piala berbentuk seorang wanita bersayap yang memegang bola atom. Desain piala ini menyimbolkan tujuan The TV Academy, organisasi pencetus penghargaan ini untuk mendukung dan mengangkat seni dan ilmu pengetahuan tentang televisi. Bagian sayap melambangkan inspirasi seni dan atom melambangkan ilmu pengetahuan.
Selain selalu bersayap dan megang atom, trademark lain dari piala ini adalah sang wanita bersayap selalu menghadap ke arah kiri. Tiap piala memakan waktu pembuatan lebih dari 5 jam. Para pembuatnya menggunakan sarung tangan untuk menghindari sidik jari menempel pada piala. Setiap tahunnya, perusahaan R.S. Owens yang bertanggung jawab membuat piala ini, mencetak hingga 400 piala. Meskipun jumlah kategorinya berubah-ubah, stok piala selalu dilebihkan. Apabila lebih, piala tersebut disimpan untuk acara tahun depan. Legita, Muthia – Foto: SIPA Press
Nama piala Emmy Award adalah The Emmy Statuette. Piala ini terbuat dari campuran tembaga, nikel, perak dan emas. Tingginya sekitar tinggi 39 cm dan berat sekitar 3 kg. Piala ini didesain oleh insinyur televisi bernama Louis McManus di tahun 1948. McManus menggunakan istrinya sebagai model dari desain piala berbentuk seorang wanita bersayap yang memegang bola atom. Desain piala ini menyimbolkan tujuan The TV Academy, organisasi pencetus penghargaan ini untuk mendukung dan mengangkat seni dan ilmu pengetahuan tentang televisi. Bagian sayap melambangkan inspirasi seni dan atom melambangkan ilmu pengetahuan.
Selain selalu bersayap dan megang atom, trademark lain dari piala ini adalah sang wanita bersayap selalu menghadap ke arah kiri. Tiap piala memakan waktu pembuatan lebih dari 5 jam. Para pembuatnya menggunakan sarung tangan untuk menghindari sidik jari menempel pada piala. Setiap tahunnya, perusahaan R.S. Owens yang bertanggung jawab membuat piala ini, mencetak hingga 400 piala. Meskipun jumlah kategorinya berubah-ubah, stok piala selalu dilebihkan. Apabila lebih, piala tersebut disimpan untuk acara tahun depan. Legita, Muthia – Foto: SIPA Press
Subscribe to:
Posts (Atom)